Sabtu, 27 Agustus 2011

Keajaiban Hujan


Keajaiban Hujan






Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat. Hujan–yang memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.

Informasi ini, yang tidak mungkin diketahui manusia di zamannya, menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupaka kalam Allah. Sekarang, mari kita kaji informasi-informasi tentang hujan yang termaktub di dalam Al-Qur’an.

Kadar Hujan

Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf : 11)

“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.

Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.

Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).

Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.

Pembentukan Hujan

Bagaimana hujan terbentuk tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahapan-tahapan pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, “bahan mentah” hujan naik ke udara. Kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul.

Tahapan-tahapan ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan:

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum : 48)

Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Tahap Pertama : “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”

Keajaiban Hujan
Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini –yang kaya akan garam– kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “JebakanAir”) di sekelilingnya.

Tahap Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”

Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.

Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”

Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya.

#Sumber
HarunYahya.com

Pergerakan Gunung

Pergerakan Gunung













Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.


وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS An-Naml : 88)

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah "continental drift" atau "gerakan mengapung dari benua" untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Jumat, 22 Juli 2011

Waktu Yang Terlupa Menabur Bencana

Berapa sholat kita dalam 50 tahun??????


1x sholat = ± 10 menit .....5x sholat ± 1 jam

Dalam waktu 50 tahun waktu yang terpakai sholat=18250 hari x I jam =18250 jam= 2 tahun

Kesimpulan: waktu yang kita manfaatkan dalam 50 tahun di dunia cuma 2 tahun untuk sholat............

2 tahun dari 50 tahun kesempatan kita....itupun belum tentu sholat kita bermakna berpahala dan di terima..

Dan sekiranya sholat kita selama 2 tahun berpahala rasa-rasanya tidak sebanding dengan perbuatan dosa-dosa kita selama 50 tahun; dalam ucap kata kita yang selalu dusta, baik yang terasa maupun yang di sengaja, dalam ucap kata kita yang selalu cerca terhadap orangtua, dalam harta kaya kita yang selalu kikir terhadap orang faqir, dalam setiap laku langkah kita yang selalu bergelimang dosa..............................Hi5


Distribusi normal manusia meninggal dunia (tahun)
Chart
Rata-rata manusia meninggal dunia antara usia 60 thn-70thn (mayoritas)
Pukul rata manusia meninggal ± 65 th
"Baligh: Start untuk seseorang di perhitungkan amal baik atau buruknya selama
hidup di dunia"
Laki-laki Baligh ± 15 tahun
Wanita Baligh ± 12 tahun

Usia Yang tersisa untuk kita beribadah kepada-Nya kita pukul rata dengan rumus:


MATI-BALIGH= sisa USIA.................65-15= 50 tahun


12 jam siang hari
12 jam malam hari
24 jam satu hari satu malam

Gambaran kotornya:

Mari kita tela'ah bersama.........!
Waktu kita tidur ± 8 jam/hari

Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai tidur 18250 hari x 8 jam= 146000 jam=16 tahun7 bulan......

di bulatkan jadi 17 tahun

Logikanya: Alangkah sayangnya waktu 17 tahun habis di gunakan untuk tidur, padahal kita akan tertidur dari dunia untuk selamanya...............................................................

Catatan: Yang lebih bermasalah lagi bagi mereka yang tumor alias tukang molor bisa jadi 12 jam/hari =25 tahun habis tertidur!!! Hati-hati dengan penyakit "TUMOR"

Waktu aktivitas kita di siang hari ± 12 jam

Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai aktivitas:18250 hari x12 jam=219000 jam=25 tahun

Aktivitas disiang hari: Ada yang bekerja, atau bercinta, ada yang belajar atau mengajar, ada yang sekolah atau kuliah, ada yang makan sambil jalan-jalan, ada pula yang gambling sambil maling...

dan masih banyak lagi aktivitas lainnya yang tak pernah bisa disamaratakan satu dengan yang lain........

Waktu aktivitas santai atau rilexsasi ± 4 jam

Dalam 50 tahun waktu yang dipakai rileksasi 18250 hari x 4 jam= 73000 jam = 8 tahun

Realisasi rileksasi: biasanya nonton tv sambil minum kopi, ada pula yang belajar mati-matian/bikin contekan habis-habisan buat ujian, atau mungkin dihabiskan termenung di buai khayalan......

17 tahun + 25 tahun + 8 tahun = 50 tahun Plus plos/Balance

Tidur......Ngelembur...Nganggur


Lalu kapan Ibadahnya??????

Padahal manusia diciptakan-Nya tiada lain dan tiada bukan untuk semua dan segalanya hanyalah beribadah kepada-Nya, karena satu hal yang pasti kita akan kembali ke alam hakiki illahi!!!!!!!!!!!!!!!!!
" Maut datang menjemput tak pernah bersahut
Malaikat datang menuntut untuk merenggut
Manusia tak kuasa untuk berbicara
Tuhan Maha Kuasa atas syurga dan Neraka"

Memang benar!!!!! kuliah itu ibadah, kalau niat kuliahnya untuk ibadah, lawong kita mah kuliah mau nyari ijazah, bakal nanti bekerjah agar mudah mencari nafkah........................

Memang benar!!!!!!!!! Bekerja cari nafkah itu ibadah, tapi bekerja yang bagaimana? Orang kita bekerja sikut sanah sikut sinih, banting tulang banting orang, tujuan utamanya cari uang buat beli barang-barang biar dipandang orang-orang.....

"jarang orang menolak untuk di puji dan di puja tatkala mereka berjaya "

Pernah kita membaca bismillah saat hendak berangkat kuliah tapi sayang hanya sekedar pernah...............

Pernah kita berniat mulia saat hendak mencari nafkah, tapi semuanya terlupa ketika melihat gemerlapnya dunia.......

Lalu kapan ibadahnya??????????????

Oh mungkin saat sholat yang 5 waktu itu dianggap cukup...........!

Karena kita pikir; sholat begitu besar pahalanya, sholat amalan yang dihisab paling pertama, sholat jalan untuk membuka pintu syurga.........

Kenapa kita harus cukup kalau ibadah kita hanyalah sholat kita!!!!!!

Berapa sholat kita dalam 50 tahun??????

1x sholat = ± 10 menit .....5x sholat ± 1 jam

Dalam waktu 50 tahun waktu yang terpakai sholat=18250 hari x I jam =18250 jam= 2 tahun

Kesimpulan: waktu yang kita manfaatkan dalam 50 tahun di dunia cuma 2 tahun untuk sholat............

2 tahun dari 50 tahun kesempatan kita....itupun belum tentu sholat kita bermakna berpahala dan di terima..

Dan sekiranya sholat kita selama 2 tahun berpahala rasa-rasanya tidak sebanding dengan perbuatan dosa-dosa kita selama 50 tahun; dalam ucap kata kita yang selalu dusta, baik yang terasa maupun yang di sengaja, dalam ucap kata kita yang selalu cerca terhadap orangtua, dalam harta kaya kita yang selalu kikir terhadap orang faqir, dalam setiap laku langkah kita yang selalu bergelimang dosa..............................

Logika dari logikanya:

Bukan satu yang tidak mungkin kita umat di akhir jaman akan berhamburan di neraka untuk mendapatkan balasan kelalaian........................

Terlalu banyak waktu yang terbuang percuma selama manusia hidup di dunia dan semuanya itu akan menjadi bencana.........................

Solusi:

Tiada kata terlambat walaupun waktu bergulir cepat, isilah dengan sesuatu apa yang bermanfaat,

Ingatlah Akhirat...

Rabu, 01 Juni 2011

MENJADI MUSLIM YANG SUKSES


Mendapatkan ketentraman dan hidayah di dunia dan di akhirat merupakan tolok ukur kesuksesan. Sedangkan hal itu tidak mungkin diperoleh kecuali dengan tauhid yang bersih dari berbagai macam kotoran dan penyimpangan, terutama dosa kesyirikan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Ketika turun ayat, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al An’aam : 82). Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, “Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami ini orang yang tidak menzalimi dirinya ?” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya maksud ayat itu bukanlah sebagaimana yang kalian sangka. Tidakkah kalian pernah mendengar perkataan seorang hamba yang shalih, “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang sangat besar” (QS. Luqman : 13). Yang dimaksud dengan zalim dalam ayat itu adalah syirik”.” (HR. Al Bukhari (32), Muslim (124), Imam Ahmad (6/69/3589) cet. Ar Risalah, dikutip dari Ibthaalu Tandiid, hal. 19-20)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hal yang membuat para sahabat merasa berat ialah karena mereka menyangka bahwa kezaliman yang dipersyaratkan harus dihilangkan di sini adalah kezaliman hamba terhadap dirinya sendiri. Mereka mengira bahwa keamanan dan petunjuk tidak akan bisa diraih oleh orang yang menzalimi dirinya sendiri. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerangkan kepada mereka bahwa di dalam Kitabullah syirik juga disebut sebagai kezaliman. Sehingga rasa aman dan petunjuk tidak akan diperoleh orang-orang yang mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman jenis ini. Karena sesungguhnya barangsiapa yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman ini (syirik) maka dia termasuk orang-orang yang berhak memperoleh keamanan dan petunjuk…” (Fathul Majiid, hal. 34)

Imam Ibnu Jarir membawakan sebuah riwayat dari Rabi’ bin Anas bahwa yang dimaksud iman di sini adalah ikhlash (memurnikan ibadah) untuk Allah saja. Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja. Mereka tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya. Mereka itulah yang akan merasakan keamanan pada hari kiamat serta memperoleh hidayah di dunia maupun di akhirat” (lihat Fathul Majiid, hal. 34)

Syaikhul Islam mengatakan, “Barangsiapa bisa menyelamatkan dirinya dari ketiga macam kezaliman : berbuat syirik, menzalimi sesama hamba, dan menzalimi diri sendiri selain syirik maka dia berhak memperoleh rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna (al amnu al muthlaq dan al ihtida’ al muthlaq). Sedangkan orang (bertauhid) yang tidak bisa menyelamatkan dirinya dari perbuatan zalim terhadap dirinya sendiri maka dia hanya akan memperoleh rasa aman dan petunjuk sekadarnya (tidak sempurna, disebut juga muthlaqul amn dan muthlaqul ihtida’, red). Dalam artian dia pasti akan masuk surga. Sebagaimana hal itu telah dijanjikan oleh Allah di dalam ayat lain. Dan Allah pun menunjukkan kepadanya jalan yang lurus yang pada akhirnya juga akan mengantarkannya menuju surga. Rasa aman dan petunjuk itu akan berkurang berbanding lurus dengan penurunan iman yang terjadi karena perbuatan zalimnya terhadap dirinya sendiri.”

Beliau melanjutkan, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya (yang dimaksud zalim dalam ayat) itu adalah syirik” itu bukan berarti barangsiapa yang tidak berbuat syirik akbar pasti akan meraih rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna. Sebab terdapat banyak sekali hadits serta nash-nash Al Qur’an yang menerangkan bahwa para pelaku dosa besar dihadapkan dengan cekaman rasa takut. Mereka tidak bisa memperoleh keamanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna; dua karunia yang bisa membuat mereka mendapatkan hidayah menempuh jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang mendapatkan anugerah nikmat Allah, tanpa sedikitpun siksa yang harus mereka terima. Akan tetapi mereka itu memiliki pokok petunjuk untuk menempuh jalan yang lurus ini. Mereka juga memiliki pokok kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, sehingga mereka juga pasti akan merasakan masuk surga” (Fathul Majiid, hal. 35).

Anda ingin menjadi seorang muslim yang sukses? Maka marilah kita bersihkan diri kita dari kotoran syirik besar maupun syirik kecil dan dari segala bentuk kezaliman. Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita untuk istiqamah di atas agama yang hanif ini hingga ajal menjemput kita dan Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Sabtu, 02 Oktober 2010

5 Sebab agar dapat dipercaya orang lain



Karena dipercaya orang lain itu penting, maka sangat penting bagi anda untuk mengetahui dan melakukan prinsip dipercaya orang lain. Saya memilih lima prinsip agar kita bisa dipercaya orang lain, yaitu:

1. Percaya Diri
Percaya pada diri sendiri penting agar anda bisa dipercaya orang lain. Bagaimana mungkin orang lain akan percaya pada anda bila anda sendiri tak percaya pada diri anda sendiri. Di bab yang membahas keyakinan, saya telah membahas tentang hal ini.

2. Mentalitas Kuat (Semangat, Disiplin, Integritas)
Mentalitas adalah dasar kuat agar anda bisa dipercaya oleh orang lain. Maka bangunlah kualitas-kualitas pribadi yang hebat. Jadilah orang yang semangat setiap saat. Jadilah disiplin dalam hidup. Jadilah pribadi yang penuh integritas.

Nabi Muhammad mendapat gelar Al-Amin (Yang Dapat Dipercaya) dari masyarakatnya. Kenapa? Karena ia memang layak untuk itu. Ia pribadi yang jujur dan penuh integritas. Setiap amanah (kepercayaan) yang diberikan orang lain, ia tunaikan dengan baik. Bila berjanji, ia selalu penuhi. Bila berkata-kata, ia tak pernah bohong.

Apakah orang lain akan percaya pada anda bila anda tak disiplin? Bisakah anda dipercaya bila anda terlihat loyo dan tak bersemangat? Mungkinkah anda dipercaya bila anda tak jujur dan tak berintegritas (kata-kata dan tindakan anda berbeda)? Tidak! Itulah sebabnya mengapa mentalitas penting bagi anda yang ingin dipercaya.

3. Kompeten
Kepercayaan orang lain pada anda diraih karena anda kompeten. Anda memiliki kompetensi / keahlian dalam bidang tertentu yang berguna untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Dengan begitu, anda menjadi pribadi yang dapat diandalkan oleh orang yang mempercayai anda.

Anda boleh saja percaya diri, bermental baik dan kuat, tapi bila tidak memiliki kompetensi apapun, maka anda hanya akan dipercaya pada tingkatan yang tidak tinggi. Anda diserahi tanggung jawab yang kecil.
Di perusahaan ada manajer dan satpam. Kompetensi manajer jelas lebih dibanding satpam. Karena itu, meski keduanya sama-sama dipercaya, tapi punya posisi yang berbeda. Posisi manajer lebih tinggi dari satpam. Karena posisi lebih tinggi, maka kualitas hidup yang diraih pun lebih tinggi pula.

Maka jadilah pribadi yang kompeten. Belajar lah dengan fokus pada kompetensi tertentu. Jadilah ahli di bidang itu. Dengan begitu, anda akan mendapat kepercayaan dari banyak orang.

4. Prestasi
Pak Fadel Muhammad menjadi Gubernur Gorontalo dalam dua periode karena prestasinya. Kompetensi yang ia miliki digabung dengan kompetensi seluruh timnya dirubah menjadi prestasi kerja yang gemilang. Maka ia pun dipercaya oleh rakyat Gorontalo. Prestasinya bicara sangat lantang.

Para atlet benar-benar merasakan betapa pentingnya prestasi bagi diraihnya kepercayaan. Ketika negara memilih atletnya untuk mewakili di tingkat internasional, maka negara memilih atlet yang prestasinya paling gemilang.

Ketika perusahaan akan mengisi sebuah jabatan tertentu, maka prestasi kerja dari para kandidat pejabat menjadi kunci utama. Siapa yang berprestasi punya peluang besar untuk mendapat promosi.

5. Komunikasi
Apa pentingnya komunikasi dalam meraih kepercayaan orang lain? Sangat penting. Anda bisa sangat berprestasi. Tapi bila komunikasi anda buruk, maka prestasi anda tak terlihat istimewa. Tapi bila komunikasi anda hebat, maka hal yang biasa-biasa saja bisa terkesan hebat.

Apalagi bila prestasi tinggi digabung dengan komunikasi yang tepat. Maka kepercayaan akan dengan mudah dan cepat diraih. Presiden Barack Obama membuktikan itu. Prestasinya hebat. Komunikasinya mumpuni. Maka ia bisa menjadi presiden Amerika pertama yang berketurunan negro.

Komunikasi memang bisa membuat hal biasa terlihat hebat. Tapi sampai kapan? Maka gabungkan lah prestasi dan komunikasi. Bila selama ini prestasi kerja anda sudah hebat, tapi kualitas hidup anda biasa-biasa saja, mungkin anda harus mengkomunikasikan prestasi hebat kerja anda dengan lebih baik. Maka bukan hanya kesan baik yang didapat, tapi benar-benar kepercayaan penuh.

Remaja Islam, Remaja Pejuang




dikutip dari catatan Priscilla “haura Humaira” Auldrine , Jimbaran, Bali

Islam adalah satu-satunya dien yang diridhoi oleh Allah. Karena dien ini murni berasal dari Allah, maka banyak banget hal-hal yang selaras dengan fitroh manusia. Misalnya saja fitroh manusia untuk tampil berani dan anti pengecut. So, Islam menciptakan banyak sosok-sosok pejuang berjiwa pahlawan ketika keimanan itu benar-benar meresap dalam diri.

Tak terhitung banyaknya pejuang, pahlawan, syuhada, hero, atau apa pun sebutan mereka yang rela berkorban jiwa raga demi kejayaan Islam saja. Kamu pernah dengar motto ‘Hidup Mulia atau Mati Syahid’? Yupz…motto ini keren banget. Pilihan yang ada sama-sama oke, baik dalam kondisi hidup ataupun mati. Hidup seorang muslim itu harus mulia, tidak boleh terhina sedikit pun juga. Ketika kemuliaan hidup itu tidak didapatkan, maka pilihan mati pun bukan sia-sia tapi menjemput kesyahidan. Yang namanya syahid tentu saja surga donk imbalannya. Keren banget kan?

Kedua pilihan dalam motto di atas, terkandung makna dalam banget tentang aktifitas yang harus dilakukan oleh manusia yaitu berjuang. Berjuang untuk menjadi mulia dalam hidup atau syahid ketika memang ‘harus’ mati. Mulia dalam konteks ini bukan berarti seseorang yang kaya raya, rumah mewah dan jabatan bergengsi. Mulia disini maksudnya adalah mulia dengan Islam dalam segenap aspek kehidupan. Mulia ketika manusia itu hanya tunduk dan taat pada aturan Allah saja.

Pilihan kedua yaitu mati syahid. Kesyahidan disini bukan berarti bebas mengebom rakyat yang tak berdosa seperti yang banyak terjadi di negeri-negeri muslim. BUKAN. Itu mah salah sasaran. Kalo mau ngebom, tempat yang tepat adalah ke Israel yang telah merampas Palestina dan membunuhi banyak kaum muslimin disana, atau kerap dilakukan mujahidin di chechnya dan negeri muslim yang sedang di invasi AS dan sekutunya. Tapi bukan di Indonesia dan mayoritas negeri muslim yang bukan area perang, maka gak boleh donk seenaknya mengebom dan membunuh rakyat sipil.

Kesyahidan disini adalah syahid dalam rangka memperjuangan kembalinya kehidupan Islam yang akan menjalankan seluruh syariat Islam dalam naungan Daulah Khilafah. Loh, yang namanya syahid ya pasti berjihad donk, mungkin itu pikiran kamu. Mana bisa disebut mati syahid kalau bukan berjihad dalam makna perang? Ada hadits Rasulullah SAW yang menyatakan “Penghulu syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, dan orang yang berkata di hadapan seorang penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkannya (pada kemakrufan) dan melarangnya (terhadap kemunkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (H.r. al-Hakim)

Wah…ternyata memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar di hadapan penguasa yang dzolim bisa meraih ‘gelarl syuhada loh.

Dan aktifitas tersebut ada pada yang namanya berdakwah alias menyeru atau mengajak. Jadi, sebagai remaja muslim, kamu kudu rajin mengajak teman-temanmu, keluargamu, guru-gurumu dan siapa saja untuk berbuat makruf dan menjauhi kemungkaran.

Sejak dini, Islam memang mengajarkan pemeluknya untuk menjadi sosok pejuang yang tangguh. Terbukti kan tidak ada alternatif ketiga misalnya untuk menjadi pengecut dengan hidup penuh kehinaan, apalagi mati sebagai pecundang. Ih…naudzubillah. So, tanamkan dalam diri kamu wahai remaja Islam bahwa menjadi pejuang adalah satu-satunya pilihan untuk menempuh kemuliaan hidup atau berkalang tanah dengan predikat syuhada, insya Allah ^_^

Menghapus dosa-dosa

Maukah aku beritahu apa yang dapat menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?"
Para sahabat menjawab: "Baik ya Rasulullah." Beliau berkata, "Berwudhu dengan
baik, menghilangkan kotoran-kotoran, banyak langkah diayunkan menuju mesjid, dan
menunggu shalat (Isya) sesudah shalat (Maghrib). Itulah kewaspadaan
(kesiagaan)."... (HR. Muslim)

Malaikat Jibril

Sesungguhnya malaikat Jibril membisikkan dalam benakku bahwa jiwa
tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah
kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya
rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada
Allah karena apa... yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan
kepada-Nya.(HR. Abu Zar dan Al Hakim)

Astagfirullahal'azhiim Alladzii laa ilaaha illaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilai

Astagfirullahal'azhiim Alladzii laa ilaaha illaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilai.Ya Allah Ampunilah dosaku, dosa kedua orang tuaku, dosa anak-anak kami , jadikanlah anak-anak kami yang berperilaku sholeh dan sholeha yang dapat menjaga kehormatan keluarga dan kelak dapat kami harapkan do'a dari mereka karen...a dari do'a merekalah kami Insya Allah dapat terhindar dari siksaanMu. Amin

Nikmat Allah

Ketika kita meminta Allah menukar ibadah kita dengan sejimpit rizki
Maka hanya sebesar itulah yang kita peroleh
Jangan pernah berhitung dengan Allah atas apa yang akan diberikan Allah atas ibadah kita
Maka Allah akan memberikan Alam semesta kepadamu

Gagal

Tidak pernah ada kata gagal bagi setiap muslim yang tawwakal
yang ada adalah keberhasilan yang diberikan Allah berbeda dengan yang kita inginkan
tidak semua yang menurut kita baik, baik juga menurut Allah

Jgn pernah mengeluh

Jangan pernah mengeluh atas apa2 yang diberikan Allah kepadamu
kabarkan kepada Nya bahwa engkau ikhlas dan bersyukur atas segala keputusan Nya

AlQuran, Sumber Inspirasi Sains Islam




“Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan (manusia) dengan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. Demikian arti dari Q.S Al Alaq ayat 3-5.

Merupakan anugerah terbesar yang sangat berharga bagi umat islam ialah Alquran. Tidak hanya petunjuk yang menuntun manusia menuju Rab-Nya, tetapi juga kandungan yang ada didalamnya­- bila dilihat dari aspek tinjauan sains- memiliki nilai yang sangat tinggi. Sains yang berlandaskan nilai-nilai islam harus berlandaskan Alquran sebagai referensi utama.

Alasan logisnya, Alquran kurang lebih mengandung ayat kauniyah sebanyak 800 ayat telah mencukupi kuota untuk memenuhi khasanah pengetahuan ciptaan Sang Khaliq melalui sains. Ayat kauniyah sendiri merupakan ayat yang berkaitan dengan alam semesta. Tentunya, Allah tidak memasukkan ayat-ayat kauniyah dalam Alquran melainkan menjadi bekal pembelajaran dan inspirasi bagi manusia yang hendak mendalami sains islam.

Pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui penggunaan akalnya inilah yang kemudian disusun menjadi suatu bentuk yang berpola. Setelah berbagai butir pengetahuan itu dikumpulkan dalam suatu bentuk yang teratur, kumpulan itu disebut aqliah atau falsafiyyaah, yaitu ilmu atau sains (Andi Hakim, 2008). Dan Allah menghendaki bahwa sains yang dibangun tetap mematuhi sunnatullah yang telah ditetapkan Allah. Selain itu Tujuan sains islam untuk memperlihatkan kesatuan hukum alam, kesalinghubungan seluruh bagian dan aspeknya sebagai refleksi dari kesatuan prinsip Illahi (Agus P, 2008).

Beberapa ayat yang dapat menjadi inspirasi sains beberapa disiplin ilmu seperti fisika, biologi, astronomi, kedokteran yang telah berkembang begitu pesat. Misalnya, “Dan kami meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan)…” dalam surat Al Hijr 15:22. “Dan sesungguhnya menciptakan gugusan bintang-bintang (dilangit)..”.dalam surat Al Hijr 15: 16. Maka bintang-bintang itu “Sebagai penunjuk jalan…”An Nahl 16:16. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”, dalam surat Al Alaq 96:2.

Beberapa ayat diatas sangat memberikan inspirasi bagi ilmuwan-ilmuwan yang hendak mendalami sains. Hasilnya, pada tahun 1979 ketika itu Abdus Salam, ilmuawan Muslim peraih Nobel dalam bidang fisika teori, menuturkan dalam pidato penganugerahan Nobel Fisika di Karolinska Institute, Swedia. Di forum tersebut, ia mengaku bahwa riset itu didasari oleh keyakinan terhadap kalimah tauhid. “Saya berharap Unifying the Forces dapat memberi landasan ilmiah terhadap keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa,” kata penulis 250 makalah ilmiah fisika partikel itu. Dan dia juga menuturkan ketika menghadiri sidang UNESCO di Paris, 1984, “Saya muslim karena saya percaya dengan pesan spiritual Alquran. Alquran banyak membantu saya dalam memahami hukum alam, dengan contoh-contoh fenomena kosmologi, biologi dan kedokteran sebagai tanda bagi seluruh manusia”.

Dari teori yang ditemukan Abdus Salam itu mengispirasi ilmuwan setelahnya seperti Stephen Hawking dengan Theory of Everything dan yang dicanangkan ilmuwan AS, Grand Theory (GT). Para fisikawan dan kosmolog dunia kini berambisi untuk menjelaskan rahasia penciptaan alam semesta dalam satu teori tunggal yang utuh. Ujung-ujungnya suatu saat akan terbukti bahwa permulaan penciptaan alam semesta berasal dari sesuatu yang satu. Mirip dengan apa yang difirmankan Allah dalam Alquran, “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi dulu keduanya adalah sesuatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segalanya sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?” dalam surat Al Anbiya’ 21:30.

Sesungguhnya dengan mempelajari Sains yang berlandaskan Alquran, umat islam sedang mengemban tugas yang mulia. Bahkan, Allah telah memudahkan kepada umat islam dengan memberikan inspirasi-inspirasi yang dikandung dalam Alquran. Hanya saja dengan usaha keras mempelajarinya ilmu itu akan dapat dipahami, dan ditemukan. Karena, Allah berkehendak meninggikan derajat orang yang beriman dan mau mempelajari ilmu, pengtahuan/sains. Baik dihadapan seluruh manusia ataupun dihadapan Allah swt. Semoga.

Waktu dan Tempat Keluarnya Dajjal





Mengenai penjelasan tentang kapan dan dari arah mana Dajjal akan keluar, maka riwayat-riwayat yang ada tidak memberikan informasi yang pasti. Hadist Tamim Ad Dari yang diriwayatkan oleh Fatimah binti Qais menjelaskan posisi Dajjal berada di laut yaman. Sedangkan janji Rasulullah saw tentang tempat keluarnya Dajjal adalah di wilayah Khurasan. Sehubungan dengan banyaknya riwayat yang menunjukkan tempat keluarnya Dajjal yang berbeda satu sama lainnya, maka hal itu sangat tepat jika dikompromikan dengan riwayat-riwayat yang menjelaskan kemampuan Dajjal yang di luar kebiasaan manusia.
Keluarnya Dajjal untuk yang pertama kali adalah untuk unjuk kekuatan, membuat fitnah dan talbis, mencari pendukung, dan menebar propaganda bahwa dirinya adalah manusia baik dan bijaksana. Selama masa ini Dajjal mendapatkan kemenangan dan banyak mengalahkan musuh-musuhnya. Jika merujuk pada beberapa riwayat yang ada, maka kemenangan Dajjal adalah karena kehebatannya menampakkan syubhat dan penyamaran di depan manusia, sehingga dengan semua syubhat dan talbis yang ditampakkannya, banyak sekali dari manusia yang takluk dengan propagandanya.
Periode pertama keluarnya Dajjal berlangsung cukup panjang. Jika merujuk pada pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, maka sejak saat itu Dajjal telah keluar. Ada riwayat yang menunjukkan bahwa ia keluar selama 40 hari, akan tetapi hari pertamanya bagai 1 tahun, hari keduanya bagai 1 bulan dan hari ketiganya bagai satu pekan. Kemudian sisa-sisa hari lainnya sebagaimana hari-hari dunia lainnya. Selama masa inilah banyak kaum muslimin yang murtad dan menjadi pendukung Dajjal.
Adapun keluarnya Dajjal yang kedua kalinya, adalah pada pertempuran terakhir antara Dajjal dan kaum muslimin dan itu terjadi setelah kedatangan Al-Mahdi. Pendukung Dajjal saat itu bukan lagi para yahudi yang tinggal di israel. Mungkin saja yahudi israel itu sudah dikalahkan oleh kaum muslimin saat penaklukan Baitul Maqdis oleh Al-Mahdi. Pendukung Dajjal adalah yahudi asbahan yang tinggal di sebuah perkampungan yahudiyyah. Jumlah mereka sebanyak 70.000 orang, semua menggunakan seragam yang sama.

Rabu, 15 September 2010

Dia begitu Muda… Dia berani Berbicara…

Sebut saja namanya Wandy. Dia masih begitu muda, usianya mungkin belum menginjak 30 tahun. Tapi tulisan, membuat saya termenung sejenak. Saya tidak tahu apakah dia mengadopsi dari beberapa sumber… atau tulisan ini memang murni karena pemikirannya. Saya hanya bertanya-tanya, apa yang ada di benaknya ketika menulis ini… Mungkin lebih baik, tulisannya kita baca dahulu…
Selalu saja ada celah dalam hukum (fiqh) yang menjadi ruang bagi ‘kreativitas’ dan akal bulus kaum pencinta kemudahan. Bukan karena Sang Pencipta hukum itu lemah atau lalai, sehingga menyisakan celah-celah kecil tempat bersemainya bibit kemunafikan itu, namun inilah mihnah, ujian keimanan. Dari milestone inilah kemudian manusia terbagi menjadi tiga golongan;
1. 1. penganiaya diri sendiri (dzhalimun linafsihi),
2. 2. kelompok antara (muqtashid),
3. 3. para penghulu kebaikan (sabiqun bil khairaat).
Kelompok pertama adalah para pemuja hawa nafsu. Hatinya tak setitik jua mengandung noktah ketaatan, logikanya adalah logika pembangkangan, strateginya adalah keculasan. Maka aturan langit pun menjadi sesuatu yang dianggap profan sehingga dengan mudahnya diputarbalikkan. Lihatlah para budak syahwat ini berdalil dengan fasihnya bahwa menutup aurat adalah setakat budaya, bahwa tak mengapa berzina asal menggunakan kondom hingga tak bersentuhan kulit khatan, atau soal halalnya alkohol di suasana chilly. Mereka juga yang berargumen betapa mengharamkan rokok adalah gerbang kehancuran ekonomi bangsa. Lupakah mereka bahwa kerugian bangsa ini oleh erosi kesehatan yang diakibatkan benda haram sembilan senti itu bisa berpuluh kali lipat nominalnya? Orang-orang ini, entah dari persilangan genetik yang mana, telah mewarisi darah Yahudi yang dahulu mencoba mengakali Allah tentang larangan hari Sabat, dengan memasang jaring keramba di hari Jum’at. Inilah kelompok penganiaya diri, menukarkan kesenangan sesaat dengan siksaan yang abadi.
Kelompok kedua adalah generasi serba tanggung, shalih tidak, thalih juga tidak. Sesekali mereka berbuat dosa dan menabrak aturan, sesaat kemudian tertegun, lalu menangis menyesali perbuatannya. Inilah tipologi kaum lemah iman, yang memadu pahala dan dosa dalam satu rongga dada. Seusai shalat shubuh mereka menonton tayangan ghibah, mereka berjilbab tapi ikhtilath, berjanggut namun genit, lantang bertakbir namun fasih pula berlama-lama dalam interaksi tak penting dengan lawan jenis yang ajnabi.Sungguh tersiksa batin yang hidup dalam kondisi demikian. Jiwa yang terus menerus dalam penyesalan (nafsu allawwaamah), terjebak antara perasaan hina dan keinginan menjadi mulia. Pribadi-pribadi seperti ini senantiasa terkungkung dan terpenjara dalam dimensi dirinya sendiri. Tak usahlah diajak berpikir dan bercita-cita besar, toh mereka masih belum selesai berurusan dengan aneka persoalan remeh-temeh; virus merah jambu, jiwa pedantic (hubbu azhzhuhur) yang selalu ingin menonjolkan diri, dan berbagai perangai lainnya yang merefleksikan kekanak-kanakan jiwa.
Kelompok terakhir adalah mereka yang selalu berlomba dalam kebaikan. Mereka tak lagi berfikir sebatas halal-haram. Bagi kaum ini, segala sesuatu dinilai dengan kelembutan hati dan kepekaan iman. Mereka terbang dalam ketinggian akhlaq, jauh melewati batas-batas hukum, beyond fiqh. Yang haram pastilah mereka benci, perkara syubhat dijauhi, bahkan terhadap yang halal pun mereka berzuhud. Suatu ketika Umar ibn Khatthab ra membagi-bagikan ghanimah atas kemenangan melawan Persia. Umar tertarik pada sebuah karpet yang sungguh indah. Betapa wajar dan sederhananya potret keinginan itu; seorang khalifah agung berkehendak untuk memiliki sepotong permadani. Tak satu pun sahabat yang tidak setuju, selain bahwa bagian dari ghanimah juga merupakan hak beliau, Umar juga dipandang sebagai zahid yang terlalu keras terhadap dirinya sendiri. Namun seketika Al-Faruq tersentak. Pria yang ditakuti para setan ini merasa malu untuk memiliki ketertarikan semu pada dunia. Ia memang bukan al-ma’shum layaknya Rasulullah SAW, tapi tarbiyah Sang Nabi telah melekat erat di sanubarinya. Lalu ia memotong karpet itu menjadi bagian-bagian kecil dan membagi-baginya kepada para sahabat (Husain Haykal, Umar al-Faruq). Permadani Persia itu sudah tak utuh lagi, begitu juga keinginan Umar untuk memilikinya juga telah teratasi. Kini Umar tak lagi merasa malu pada Allah, pada Rasul dan pada dirinya sendiri. Ya, bagi jiwa pendamba surga, rasa malu memang menjadi hiasan diri. Sebab sabda Sang Nabi SAW; “Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari kalimat pertama kenabian adalah: jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu” (HR Bukhari, lihat dalam Ibn Daqieqil ‘Ied, Syarhul Arba’iina Hadiitsan An-Nawawiyah).
Bagaimana…?
Tiga golongan itu saya yakini kebenarannya. Salah satu upaya, untuk dapat menghisab diri sebelum dihisab nanti. Dengan kejujuran hati untuk bisa mengakui, ada di golongan mana kita sekarang.
Tapi ada beberapa hal lain yang menggugah hati saya… Pertama, seusianya, saya belum mempunyai keinginan untuk menghisab diri dengan kedalaman seperti itu. Kedua, melalui tulisannya dia sanggup menyuarakan apa yang ada di benaknya dengan cukup berani. Ketiga, harapan saya… tulisan itu dilandasi motivasi untuk ‘fastabiqunal khairaat’… berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan untuk menjustifikasi secara personal. Keempat, semoga ketika ditanyakan kepada dirinya… di golongan manakah dia berada? Dia bisa menjawabannya…
Karena pada dasarnya, kita semua mempunyai fitrah untuk berbuat kebaikan, ingin memberikan yang terbaik, sebagai bentuk eksistensi kita di dunia ini, untuk kemudian kita serahkan penilaian terakhirnya di kekuasaan Sang Pencipta.
Tidak semua orang menyukai dakwah dengan argumentasi yang cukup keras. Tapi hampir semua orang menyukai dakwah yang menenangkan, dengan bahasa kelembutan… Tanpa ada kesan merasa paling suci, tapi mengajak… untuk bersama-sama… menggapai cinta Illahi, dalam balutan keindahan bahasa…

Sabtu, 04 September 2010

Syariah Islam Pembawa Rahmat

ALLAH SWT menurunkan syariat Islam melalui Rasulullah saw sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam/makhluk). Kehadiran Rasulullah Saw ke atas dunia dengan membawa wahyu Allah SWT, tutur kata dan tingkah lakunya sebagai hukum dan suri tauladan bagi seluruh umat manusia. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya [21]: 107)

Selain itu, kesempurnaan dan cakupan Dinul Islam, yang tidak memberi peluang satu perkara pun lolos dari pandangannya, menunjukkan keagungan dan kehebatan syariat Islam yang tidak dimiliki oleh sistem hukum manapun yang ada di seluruh dunia. Firman Allah SWT: “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl [16]: 89)

Berdasarkan hal ini, maka seorang Muslim tidak layak berpaling dan beralih kepada sistem hukum lain. Apalagi jika sistem hukum tersebut merupakan produk buatan manusia yang sarat dengan keterbatasan, kelemahan dan kepentingan. Jika Allah SWT telah memberikan kepada kita Dinul Islam yang sempurna, sistem, hukum yang adil dan cakupannya menyeluruh, mengapa sebagian besar kaum muslimin malah berpaling dari syariat Allah SWT yang sempurna dan agung? Padahal jelas-jelas Allah berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan (hukum), akan ada bagi mereka pilihan (hukum) yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab [33]: 36)

Oleh karena itu, siapapun orangnya, apapun jabatannya, selama ia seorang mukmin, yakin kepada kebenaran dan kesempurnaan hukum Allah SWT, wajib menerapkan dan mengikuti sistem hukum yang telah Allah SWT putuskan. Dimanapun tempat tinggalnya, kaum muslimin wajib menerapkan dan mengikuti sistem hukum Islam, dan dilarang untuk berpaling serta mengikuti hawa nafsu mereka dengan mengikuti sistem hukum lain. Firman Allah SWT: “Maka, putuskanlah perkara atas mereka menurut apa yang Allah turunkan (Alquran) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran (hukum Allah) yang telah datang kepadamu.” (QS Al-Maidah [5]: 48)

Di dalam kitab Mukhtashar tafsir Alquran karya Imam Al Qasimi, tatkala menafsirkan kata –fahkum bainahum bimaa anzala Allah- bermakna diterapkan di tengah-tengah Ahlu Kitab jika mereka merujuk kepadamu (Muhammad). Imam Nasafi berkata: “Allah SWT mengingatkan tentang diturunkannya Taurat kepada Musa as, kemudian diturunkannya Injil kepada Isa as, setelah itu diturunkannya Alquran kepada Muhammad Saw, dan hal itu bukan sekedar untuk didengar saja, melainkan untuk diterapkan.” (lihat Mukhtashar min mahaasini at takwil, kar. Al Qasimi, hal.116)

Dengan demikian, apabila ada yang mengatakan bahwa penerapan syariat Islam hanya berlaku bagi kaum muslimin saja, tidak untuk non muslim? Bukankah di dalam syariat Islam terdapat hukum-hukum Jizyah, hukum tentang akad Dzimmah (atas masyarakat non muslim), hukum tentang perkawinan (yang mencakup wanita Ahlu Kitab), yang ditujukan bagi orang-orang non muslim. Dan bukankah di dalam Negara Islam yang didirikan oleh Rasulullah terdapat watsiqah Madinah (piagam Madinah) berupa hukum-hukum Islam yang bersifat umum, yang diterapkan dan diikuti oleh seluruh masyarakat, baik mereka Muslim maupun non Muslim?

Meskipun demikian dalam perkara ubudiyah dan hukum-hukum pernikahan, kematian, dan sejenisnya, diberikan kepada rakyat non muslim untuk menjalankan perkara-perkara tersebut sesuai dengan ajaran agama mereka.

Allah SWT berfirman: “Apakah (sistem) hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (sistem hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (sistem hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (QS Al-Maidah [5]: 50)

Dinul Islam mengandung aqidah dan syariat, tersusun dari fikrah (ide, hukum) dan thariqah (metoda penerapan ide/hukum). Islam bukanlah filsafat, apalagi sekedar ajaran-ajaran moral atau etika. Dinul Islam juga adalah Dinul 'Amaliy, (ajaran-ajaran agama/hukum yang bersifat praktis). Pendek kata Dinul Islam itu adalah mabda (prinsip/ideologi) yang di dalamnya terdapat fikrah-fikrah dan thariqah.

Penerapan syariat Islam bisa mencegah kerusakan maupun berbagai pelanggaran yang mungkin dilakukan oleh masyarakat. Bahkan untuk beberapa perkara tertentu yang menyangkut eksistensi manusia, eksistensi akal, eksistensi kehormatan, harta, agama, stabilitas politik Daulah Islamiyah, Allah SWT telah menetapkan hukum-hukum hudud, yang berlaku apa adanya sebagaimana teks nash-nash Alquran maupun Assunnah. Seluruh perkara tersebut telah ditetapkan secara qath'iy d di dalam nash. Dan di dalam perkara hukum hudud tidak ada ijtihad. Sebab Allah-lah yang telah menetapkan bentuk hukumannya, bukan manusia.

Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Adil. Allah Mengetahui mana yang benar dan salah, apa yang baik dan apa yang tidak baik, mana yang menghasilkan maslahat, mana yang membawa mudharat. Hukum Allah bersifat abadi, cocok untuk diterapkan pada setiap zaman dan tempat. Sebab Dialah yang menciptakan seluruh manusia, Dialah yang Maha Mengetahui tabiat manusia.

Dengan demikian, sejak kapan manusia yang diciptakan, Allah yang mempunyai banyak kelemahan, lebih mengetahui dari pada Allah SWT sendiri? Dan atas dasar apa kita mengatakan bahwa hukum potong tangan, hukum cambuk, hukum rajam, hukum qishash sudah tidak layak untuk diterapkan pada masa kini. Bukankah hukum Allah itu benar dan persepsi manusia itu relatif, berubah-ubah dan lebih banyak kekeliruannya? Lalu mengapa kita enggan menjadikan syariat Islam yang berasal dari langit berada diatas segalanya, dan wajib seluruh peraturan yang ada di dunia tunduk dan mengikuti syariat Al-Khaliq?

Allah SWT berfirman : “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain ? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tiada lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al Baqarah [2]: 85).***

Sabtu, 17 Juli 2010

Berilah Hamba Hati Seperti Beliau..

"Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya salat dan banyaknya puasa, tapi karena sesuatu yang bersemayam di hatinya." (HR at-Tirmidzi di an-Nawâdir dan al-Ghazali di Ihyâ' Ulûmiddîn)

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah manusia terbaik dari kalangan umat Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah SAW. Beliau juga menobatkannya khalîl atau kekasih terdekat bagi beliau. Faktor utamanya bukan hanya karena banyaknya amal yang beliau lakukan, tapi juga karena totalitas hatinya. Hatinya serba total untuk Allah dan Rasul-Nya.

Pada saat Rasulullah SAW mengumumkan agar kaum Muslimin menyumbangkan harta mereka untuk dana perang Tabuk, Abu Bakar membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah SAW. "Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?" tanya Rasulullah kepada Abu Bakar.

"Allah dan Rasul-Nya?" jawab Abu Bakar tanpa keraguan sedikitpun.

"Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati tak menyisakan apapun melainkan apa yang ia cintai," demikian komentar Imam al-Ghazali tentang kisah beliau ini.

Totalitas hati itu membawa Abu Bakar SAW menjadi orang yang paling makrifat kepada Allah di antara umat Rasulullah SAW yang lain. Abu Bakar Radhiallâhu'anhu mengorbankan segalanya untuk Allah dan Rasulullah SAW

Hingga, hidupnya begitu miskin setelah mengucapkan ikrar Islam di hadapan Rasulullah. Padahal, sebelumnya Abu Bakar adalah saudagar kaya yang disegani di Quraisy.

Abdullah bin Umar bercerita: Suatu ketika Rasulullah SAW duduk. Di samping beliau ada Abu Bakar memakai jubah kasar, di bagian dadanya ditutupi dengan tambalan. Malaikat Jibril turun menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan salam Allah kepada Abu Bakar.
"Hai Rasulullah, kenapa aku lihat Abu Bakar memakai jubah kasar dengan tambalan penutup di bagian dadanya?" tanya Malaikat Jibril.

"Ia telah menginfakkan hartanya untukku ( untuk kepentingan dakwah: pen)." Sabda beliau
"Sampaikan kepadanya salam dari Allah dan sampaikan kepadanya: Tuhanmu bertanya: Apakah engkau rela dengan kefakiranmu ini ataukah tidak rela?"
Rasulullah SAW menoleh kepada Abu Bakar. "Hai Abu Bakar, ini Jibril menyampaikan salam dari Allah kepadamu, dan Allah bertanya: Apakah engkau rela dengan kefakiranmu ini ataukah tidak rela?"

Abu Bakar menangis: "Apakah aku akan murka kepada (takdir) Tuhanku!? (Tidak!) Aku rida dengan (takdir) Tuhanku, Aku rida akan (takdir) Tuhanku."

Semua miliknya habis untuk Allah dan Rasulullah SAW. Inilah totalitas cinta. Cinta yang mengorbankan segalanya untuk Sang Kekasih, tak menyisakan apa-apa lagi selain Dia di hatinya. "Orang yang merasakan kemurnian cinta kepada Allah, maka cinta itu akan membuatnya berpaling dari pencarian terhadap dunia " Demikian untaian kalimat tentang tasawuf cinta yang pernah terucap dari mulut mulia Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq.

oOo

“Barang siapa yang mengeluarkan dua macam harta fi sabilillah, maka ia akan dipanggil dari pintu surga… Wahai hamba Allah, sungguh ini perbuatan baik. Dan barang siapa yang selalu melaksanakan shalat, akan dipanggil dari pintu shalat. Dan barang siapa yang ikut berjihad, ia akan di panggil dari pintu jihad. Dan barang siapa yang selalu melaksanakan puasa, akan dipanggil dari pintu yang memancarkan air yang segar. Dan barang siapa yang selalu memberikan sedekah, akan di panggil dari pintu sedekah”.

Maka kemudian Abu Bakar r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah bisa seseorang dipanggil dari semua pintu surga tadi?” Mendengar pertanyaan Abu Bakar r.a. itu bibir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam terbuka lalu berkata, “Ya, dan aku sangat berharap engkau termasuk satu diantara orang yang dipanggil dari semua pintu surga.” (HR. Bukhari)

Abu Bakar RA adalah shahabat yang dipanggil dari semua pintu syurga. Kenapa saudaraku ? Karena hatinya telah diberikan hanya untuk Alloh dan Rosul-nya. Hati yang dipenuhi cinta hanya untuk Alloh dan Rosul-Nya...

Sunnah Menjawab Adzan ...

Disunnahkan untuk menjawab adzan seperti yang diucapkan mu'adzin, kecuali pada lafadz :
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ ... حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ ...
maka mengucapkan:
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
Laa haula walaa quwwata illaa billaah ...
Jika muadzin mengucapkan :
اَلصَّلاَةُ خَيْر ٌمِنَ النَّوْمِ
maka dijawab seperti itu juga ...
(Syarah Muslim IV/85-86 no.385)

http://www.facebook.com/photo.php?pid=30728895&id=1057983288&ref=mf

DOA AGAR DIBERI KETETAPAN HATI

اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ , صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

"Ya Allah, yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk ta'at kepada-Mu"
(HR. Muslim no. 2654)

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ , ثّبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْانِكَ

"Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlahhatiku pada agama-Mu".
(HR. At-Tirmidzi no. 3522, Ahmad VI/302 dan al-Hakim I/525. Lihat Shahiih at-Tirmidzi III/171 no. 2792)

http://www.facebook.com/photo.php?pid=342090&id=1845098976

Berangkatlah di pagi hari ...

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam mendoakan umatnya yang bekerja dan memulai aktifitasnya di pagi hari ...
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi harinya
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah 2236 dan Shahih Abu Dawud 2345)

http://www.facebook.com/qomarudin#!/photo.php?pid=194639&id=100000592449448